Minggu, 11 Maret 2018

PPh Pasal 21 Bukan Pegawai


bkn pegawaiI.    Pendahuluan

ortax.org - Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kelestrarian Perusahaan. Berbagai keahlian dibutuhkan agar operasional perusahaan dapat berjalan secara efektif dan efisien.  Untuk mendapatkan SDM yang berkualitas diperlukan Sistem pengelolaan SDM yang baik.

Terkait pengelolaan SDM, biasanya setiap Perusahaan memiliki kebijakan sendiri seperti penyusunan struktur organisasi, perekrutan pegawai, pelatihan dan lain sebagainya. Kebijakan ini tentunya bertujuan agar seluruh pegawai yang bekerja di perusahaan tersebut memiliki kualitas sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan. Untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, tidak jarang Perusahaan menggunakan jasa dari orang pribadi yang bukan pegawai dari perusahaan tersebut yang memiliki keahlian khusus termasuk keahlian dengan  legalitas khusus seperti Notaris, Pengacara, Dokter dan sebagainya.

Dalam terminologi perpajakan, khususnya PPh Pasal 21, orang pribadi selain pegawai yang memberikan jasa kepada perusahaan disebut dengan “Bukan Pegawai”. Kelompok bukan pegawai cukup beragam dengan berbagai kondisi subjektifnya. Teknis penghitungan PPh Pasal 21 untuk kelompok ini dapat berbeda, bergantung pada sejumlah kondisi. Berikut ini akan dibahas secara komprehensif mengenai penghitungan PPh Pasal 21 untuk Bukan Pegawai.


II.    Pembahasan

Pengertian dan Jenis Profesi Bukan Pegawai

Penerima penghasilan Bukan Pegawai adalah orang pribadi selain Pegawai Tetap dan Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan jasa yang dilakukan berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan.

Bukan Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pemberian jasa, meliputi:
  1. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris
  2. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya
  3. olahragawan
  4. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator
  5. pengarang, peneliti, dan penerjemah
  6. pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer dan sistem aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan
  7. agen iklan
  8. pengawas atau pengelola proyek
  9. pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi perantara
  10. petugas penjaja barang dagangan
  11. petugas dinas luar asuransi dan/atau
  12. distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenis lainnya

PPh Pasal 21 Bukan Pegawai dan Kategorisasi dalam SPT PPh 21

Dalam SPT PPh Pasal 21 Bukan Pegawai dapat dilihat pada formulir 1721-VI Bukti Potong Tidak Final dan untuk pengelompokan bukan pegawai disederhanakan kedalam enam kategori:
  1. Imbalan Kepada Distributor Multi Level Marketing (MLM)
  2. Imbalan Kepada Petugas Dinas Luar Asuransi
  3. Imbalan Kepada Penjaja Barang Dagangan
  4. Imbalan Kepada Tenaga Ahli
  5. Imbalan Kepada Bukan Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Bersifat Berkesinambungan
  6. Imbalan Kepada Bukan Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Tidak Bersifat Berkesinambungan

Terdapat tiga cara penghitungan PPh Pasal 21 untuk Bukan Pegawai:

1.PPh Pasal 21 Bukan Pegawai Berkesinambungan Memperoleh PTKP
PPh 21 = ((50% x Penghasilan Bruto)-PTKP Sebulan) x Tarif Pasal 17
Dihitung secara kumulatif
  
2.PPh Pasal 21 Bukan Pegawai Berkesinambungan Tidak Memperoleh PTKP
PPh 21 = (50% x Penghasilan Bruto) x Tarif Pasal 17
Dihitung secara kumulatif
  
3.PPh Pasal 21 Bukan Pegawai Tidak Berkesinambungan
PPh 21 = (50% x Penghasilan Bruto) x Tarif Pasal 17

   
PPh Pasal 21 Bukan Pegawai Berkesinambungan

Bukan Pegawai Berkesinambungan adalah orang pribadi selain Pegawai Tetap dan Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dibayar atau terutang lebih dari satu kali dalam satu tahun kalender sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.

Bukan Pegawai yang menerima penghasilan secara berkesinambungan dapat memperoleh pengurangan berupa PTKP sepanjang yang bersangkutan :
  1. Memiliki NPWP
  2. Penghasilan berasal dari hubungan kerja
  3. Tidak memperoleh penghasilan lainnya, dan
  4. Menyerahkan fotokopi kartu NPWP (bagi wanita kawin ditambah surat nikah dan Kartu Keluarga)
Jika salah satu syarat diatas tidak terpenuhi maka Bukan Pegawai tidak berhak memperoleh pengurang PTKP.


Contoh Kasus Bukan Pegawai Menerima Penghasilan Berkesinambungan Memperoleh Pengurang PTKP

Dina Aulia adalah petugas dinas luar asuransi dari PT. Sehat Abadi. Suami Dina Aulia telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan mempunyai NPWP. Dina Aulia telah menyampaikan fotokopi kartu NPWP suami, fotokopi surat nikah dan fotokopi kartu keluarga kepada pemotong pajak. Dina Aulia hanya memperoleh penghasilan dari kegiatannya sebagai petugas dinas luar asuransi, dan telah menyampaikan surat pernyataan yang menerangkan hal tersebut kepada PT. Sehat Abadi. Pada tahun 2016, penghasilan yang diterima oleh Dina Aulia sebagai petugas dinas luar asuransi dari PT. Sehat Abadi adalah sebagai berikut:

PPhbknpeg1
 
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari sampai dengan Desember 2016 adalah :
 
PPhbknpeg2
 
Contoh Kasus Bukan Pegawai Menerima Penghasilan Berkesinambungan Tidak Memperoleh Pengurang PTKP

Dr. Abdul Gopar, Sp.JP merupakan dokter spesialis jantung yang melakukan praktik di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat dengan perjanjian bahwa atas setiap jasa dokter yang dibayarkan oleh pasien akan dipotong 20% oleh pihak rumah sakit sebagai bagian penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80% dari jasa dokter tersebut akan dibayarkan kepada dr. Abdul Gopar, Sp.JP pada setiap akhir bulan. Selain praktik di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat dr. Abdul Gopar, Sp.JP juga melakukan praktik sendiri di klinik pribadinya. dr. Abdul Gopar, Sp.JP telah memiliki NPWP. Pada tahun 2016, jasa dokter yang dibayarkan pasien dari praktik dr. Abdul Gopar, Sp.JP di Rumah Sakit Harapan Jantung Sehat adalah  sebagai berikut :

PPhbknpeg3
 
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari sampai dengan Desember 2016 adalah :

PPhbknpeg4
 
 
PPh Pasal 21 Bukan Pegawai Tidak Berkesinambungan

Bukan Pegawai Tidak Berkesinambungan adalah orang pribadi selain Pegawai Tetap dan Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dibayar atau terutang hanya satu kali dalam satu tahun kalender sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.

Contoh Kasus Bukan Pegawai Tidak Berkesinambungan

Mulyadi Santoso melakukan jasa perbaikan komputer kepada PT Komputer Canggih dengan fee sebesar Rp 5.000,000,00.
 
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah:
5% x 50% Rp 5.000.000,00 = Rp 125.000,00

Dalam hal Mulyadi Santoso tidak memiliki NPWP maka besarnya PPh Pasal 21 yang terutang menjadi sebesar:
120% x 5% x 50% Rp 5.000.000,00 = Rp 150.000,00


Ketentuan Lain

Dalam hal Bukan Pegawai memberikan jasa kepada Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 :
  1. Mempekerjakan orang lain sebagai pegawainya maka besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jumlah pembayaran setelah dikurangi dengan bagian gaji atau upah dari pegawai yang dipekerjakan tersebut, kecuali apabila dalam kontrak/perjanjian tidak dapat dipisahkan bagian gaji atau upah dari pegawai yang dipekerjakan tersebut maka besarnya penghasilan bruto tersebut adalah sebesar jumlah yang dibayarkan
  2. Melakukan penyerahan material atau barang maka besarnya jumlah penghasilan bruto hanya atas pemberian jasanya saja, kecuali apabila dalam kontrak/perjanjian tidak dapat dipisahkan antara pemberian jasa dengan material atau barang maka besarnya penghasilan bruto tersebut termasuk pemberian jasa dan material atau barang.
Dalam hal jumlah penghasilan bruto dibayarkan kepada dokter yang melakukan praktik di rumah sakit dan/atau klinik maka besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayar oleh pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik sebelum dipotong biaya-biaya atau bagi hasil oleh rumah sakit dan/atau klinik.


III.    Penutup

Dalam pemotongan PPh Pasal 21 kepada Bukan Pegawai perlu diperhatikan mengenai mapping kategori Bukan Pegawai, dimana terdapat dua kategori besar dalam Bukan Pegawai yaitu Bukan Pegawai Berkesinambungan dan Bukan Pegawai Tidak Berkesinambungan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hak untuk Bukan Pegawai memperoleh pengurang PTKP dengan memenuhi ketentuan perpajakan yang berlaku. Ketentuan lain yang perlu juga dipahami dalam hal Bukan Pegawai mempekerjakan orang lain sebagai pegawainya maka besarnya jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jumlah pembayaran setelah dikurangi dengan bagian gaji atau upah dari pegawai yang dipekerjakan tersebut. Dalam hal Bukan Pegawai melakukan penyerahan material atau barang maka besarnya jumlah penghasilan bruto hanya atas pemberian jasanya saja dan untuk Dokter jumlah penghasilan bruto adalah sebesar jasa dokter yang dibayar oleh pasien melalui rumah sakit dan/atau klinik.


IV.    Referensi
  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan
  2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2015 Tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi

Kamis, 08 Maret 2018

Buat Kamu Yang Umur 30-an, Wajib Baca

hipwee.com - Setelah sukses melewati umur 20-an yang cenderung banyak kejutan, kamu akan memasuki fase baru dalam hidup. Yup, usia kepala tiga.
Di fase ini, banyak hal yang harus kamu persiapkan dengan matang. Mungkin di tahap hidup yang inilah kamu harus mengambil keputusan atau perubahan besar-besaran, yang akan mengagetkan keluarga, teman, atau malah dirimu sendiri. Mau tahu perubahan apa aja yang mungkin terjadi, atau apa aja yang harus kamu persiapkan menginjak umur 30-an? Yuk, simak!

1. Kamu Mulai Malas Pergi Nongkrong atau Shopping

mulai malas nongkrong
mulai malas nongkrong via niesnmom.blogspot.com
VERTISEMENT
Di umur 20-an, kamu mungkin masih suka menghambur-hamburkan uang. Dari mulai jajan, nongkrong bareng teman-teman, atau sekedar shopping gara-gara bosen nggak ada kerjaan. Tapi, memasuki umur 30-an, kamu merasa punya kewajiban untuk mengencangkan ikat pinggang. Karena…

Kamu Berniat Menabung untuk Hari Tuamu

menabung buat hari tua
menabung buat hari tua via www.levo.com
Ya, kamu berusaha mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang sekiranya nggak penting. Kamu sadar bahwa sebentar lagi kehidupan akan membawamu pada masa tua. Membayangkan ketika sudah pensiun, nggak bekerja, dan menyibukkan diri di kebun belakang rumah, kamu mulai sedikit khawatir.
Apa tabungan masa tuamu sudah cukup banyak? Atau, kamu bahkan belum mulai mempersiapkannya?
ADVERTISEMENT
Menginjak umur 30-an, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah segera melunasi hutang-hutangmu. Lunasi sebanyak dan secepat yang kamu bisa. Kedua, siapkan dana darurat. Ini penting kalau kamu tiba-tiba sakit atau (amit-amit) kecelakaan. Ketiga, buat rekening baru untuk menyimpan sebagian gajimu.
Kamu juga nggak boleh bersikap sembrono. Jangan berinvestasi kalau kamu nggak benar-benar paham soal investasi itu. Selain itu, kamu nggak boleh gampang percaya sama mbak-mbak atau mas-mas MLM. Menabunglah sebanyak mungkin dan sedini mungkin dengan disiplin. Semakin dini kamu menyiapkan tabuanganmu, maka semakin besar kemungkinan kamu bisa hidup tenang di masa tuamu.

2. Kamu Berhenti Makan Junk Food dan Begadang

berhenti makan junk food
berhenti makan junk food via content.rajakamar.com
Nggak ada lagi toleransi buat ngemil pizza atau burger. Jika dulu kamu berpikir bahwa “apa aja dimakan asal kenyang”, kamu sudah berubah. Nggak ada lagi jadwal lembur untuk menyelesaikan pekerjaan hingga dini hari. Kamu sadar bahwa kurang tidur berpotensi mengakibatkan berbagai penyakit.

Ya, Kesehatan Sudah Jadi Prioritasmu

kesehatan jadi prioritas
kesehatan jadi prioritas via www.rumahtips.com
Kamu mulai belajar disiplin pada dirimu sendiri, bahwa mengkonsumsi makanan sehat itu sangat penting. Baca-baca di internet dan beli majalah kesehatan, kamu baru sadar betapa pentingnya makan sayur. Selain itu, kamu berusaha menjaga waktu tidurmu, setidaknya 6,5 – 8 jam per hari. Jika dulu kamu malas buat olahraga, jogging pagi dan nge-gym sekarang sudah jadi agenda rutin.
Sadar atau nggak, tubuhmu bisa dibilang sudah mulai menua. Sebenarnya, soal kesehatan harusnya sudah jadi perhatianmu sejak usia 20-an. Bagaimana kamu memperlakukan tubuhmu itu sifatnya kumulatif. Tubuhmu nggak akan tiba-tiba rusak dalam waktu setahun atau dua tahun ‘kan? Soal kanker, jantung, diabetes, atau darah tinggi itu tergantung  bagaimana pola hidupmu.

3. Kamu Belajar Berani Menolak Ajakan yang Nggak Baik

berani menolak ajakan yang nggak baik
berani menolak ajakan yang nggak baik via www.travelettes.net
Perlahan, kamu berusaha untuk tegas pada dirimu sendiri. Kamu sadar bahwa ada hal-hal nggak penting dan nggak bermanfaat yang selama ini sering kamu lakukan. Misal, kamu dulu sering pergi ke klub malam atau bahkan mabuk. Di umur ini, kamu mulai memberanikan diri buat meyeleksi teman-temanmu yang nyatanya memberi pengaruh buruk.
Ads by AdAsia

Sekalipun Harus Kehilangan Teman, Hidupmu Harus Naik Level

hidupmu harus naik level
hidupmu harus naik level via cathytaughinbaugh.com
Kamu sadar betapa pentingnya memanfaatkan uang, tenaga, dan waktumu semaksimal mungkin. Secara nggak langsung kamu membuat garis pembatas. Mulai menjauhi orang-orang yang tidak bisa memperlakukanmu dengan baik. Meninggalkan mereka yang cuma ingin bersenang-senang dan nggak mikirin masa depan.
Mungkin nggak mudah buat menjauh dari teman-temanmu. Kamu merasa menjadi seseorang yang egois karena menolak mereka. Tapi, mengutamakan kepentingan dirimu sendiri saat ini jauh lebih penting. Di umur 20-an kamu bisa punya teman sebanyak mungkin. Tapi, di umur 30-an kamu sadar bahwa sedikit teman itu nggak masalah. Asalkan, mereka mendukung perubahanmu menjadi manusia yang lebih baik.

4. Kamu Nggak Lagi Kabur-kaburan Kalau Ada Acara Keluarga Besar

Oh, acara keluarga
Oh, acara keluarga via id.wikipedia.org
Dulu, kamu jarang banget ada di rumah dan sering absen ketika ada arisan keluarga atau semacamnya. Waktumu habis buat kuliah atau kerja. Sekalipun ada waktu luang, kamu lebih milih hangout sama teman-temanmu. Bagimu, kumpul keluarga cuma jadi agenda membosankan.

Keluarga Seharusnya Jadi yang Utama

keluarga jadi yang utama
keluarga jadi yang utama via www.tempo.co
Ketika di satu sisi kamu membatasi pergaulanmu, di sisi lain kamu mulai menyadari keberadaan orang-orang yang menyayangimu. Ya, mereka adalah keluarga. Teman bisa datang silih berganti, tapi keluargamu selalu ada mendukungmu.
Kamu sadar betapa pentingnya quality time dengan mereka. Menyempatkan untuk sekedar bertemu dan makan bersama. Waktu nggak akan berjalan mundur lho, guys! Kamu mungkin akan menyesal ketika tiba saat dimana satu demi satu keluargamu pergi untuk selama-lamanya. Selagi masih ada waktu, tunjukan betapa kamu menyayangi mereka.

5. Kamu Nggak Plin-Plan, tapi Bisa Memilih

berani memilih mimpi
berani memilih mimpi via www.bubblews.com
Berapa banyak mimpimu saat masih usia 20-an? Okelah, kamu merasa punya banyak waktu buat mewujudkan semuanya. Tapi, kedewasaan menuntunmu untuk sadar bahwa nggak semua mimpi itu bisa kamu wujudkan. Nggak semua keinginanmu bisa terwujud.

Fokus Pada Satu Karir yang Memang Jadi Impianmu

fokus pada satu karir impian
fokus pada satu karir impian via www.npr.org
Ya, kamu jadi lebih fokus pada salah satu mimpimu. Menjadi pegawai bank bukanlah cita-cita, maka persiapkan dirimu untuk banting setir. Kalau kamu pengen buka warung nasi pecel, mulailah fokus pada satu tujuan itu. Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Yang namanya meraih mimpi pasti butuh pengorbanan.
Banyak orang memilih karirnya di usia remaja. Sayang, pilihan itu seringkali salah. Di umur 30-an, kamu lebih baik fokus pada satu hal yang memang kamu yakini. Nggak ada lagi waktu buat coba-coba atau setengah-setengah dalam mengejar mimpimu. Kamu berpacu dengan waktu.
Secara umum, 30-an dianggap sebagai umur matang seseorang, khususnya soal karir. Coba deh perhatikan di media sosial. Mereka yang sudah memasuki umur 30-an akan bersikap secara profesional, mencantumkan nama lengkap dengan gelar serta menuliskan pencapaian-pencapaian mereka secara terbuka.

6. Kamu Berpikir, Tapi Nggak Takut Ambil Risiko

berpikir dan nggak takut ambil resiko
berpikir dan nggak takut ambil risiko via www.flickr.com
Saat remaja kamu nggak pikir panjang untuk membuat keputusan. Di umur 20-an, kamu mulai berpikir tapi takut memilih dan memutuskan. Nah, di umur 30-an ini kamu baru bisa berpikir secara dewasa tanpa rasa takut untuk mengambil risiko besar dalam hidupmu.

Usia 30-an Bisa Jadi Sebuah Titik Balik

Inner beauty 🙂 via www.unsplash.com
Nah, jika kamu merasa hidup yang kamu jalani sekarang bukanlah yang kamu impikan, segera reset hidupmu. Belum terlambat kok. Orang-orang yang akhirnya menyesal adalah mereka yang takut berubah. Mereka memutuskan tetap bertahan untuk hal-hal yang sebenarnya dirasa tidak baik.
Renungkan kembali, apa yang kamu inginkan dalam hidup ini? Kamu mungkin sudah berada di puncak karir, entah jadi manager atau bos. Tapi, apa itu sesuai renjanamu? Kamu sudah ‘cukup mapan. Punya mobil pribadi, rumah sendiri, kartu kredit, dan bisa liburan tiap akhir pekand. Apa itu yang kamu impikan?
Ketika kamu ingin berubah, yakinlah bahwa niat itu datangnya dari dirimu sendiri. Jangan mau didikte orang lain atau lingkungan yang mengatakan “hey, kamu udah 30 tahun, lho!”

7. Kamu Bukan Lagi Gamer yang Freak atau Traveler Galau

kamu lagi gila ngegame
kamu lagi gila ngegame via agatestudio.com
Betapa pentingnya memanfaatkan waktu buat mengembangkan diri. Ya, kamu merasa nggak cukup pintar, kurang membaca, atau nggak upgrade ilmumu. Jika dulu waktumu habis buat main game atau traveling sesuka hati, sekarang kamu ingin lebih banyak belajar.

Mending Ikutan Seminar Investasi

ikutan seminar investasi
ikutan seminar investasi via www.hsbc.co.id
Di usia 30-an kamu akan berpikir serius tentang cara mengembangkan diri. Sekarang, kamu lebih haus secara intelektual.
Berpikir buat lanjut kuliah lagi, ikut organisasi, atau datang ke seminar investasi dan pengembangan diri. Tujuanmu adalah meningkatkan kualitas secara individu. Jadi, orang yang lebih baik dimanapun dan dengan siapapun. Kamu ingin sukses dalam berbagai segi kehidupan.

8. Umur 30-an Tapi Belum Menikah? Kamu Panik!

belum menikah di umur 30-an, kamu panik!
belum menikah di umur 30-an, kamu panik! via idophotograph.indonetwork.co.id
Khusus buat para cewek, umur 30-an dan belum menikah itu seringkali dianggap tabu. Banyak orang menganggap kalau kamu telat nikah berarti nggak laku. Bayangan jadi perawan tua dan ketakutan buat hamil di umur 30-an membuatmu makin panik.
Sedangkan buat cowok, belum menikah di umur 30-an mungkin nggak terlalu mengerikan. Tapi, diam-diam kamu juga mulai iri dengan teman-temanmu yang sudah berumah tangga.

Kamu Berusaha Menemukan Pasangan yang Sepadan

menemukan pasangan yang sepadan
menemukan pasangan yang sepadan via www.kabar24.com
Untuk membangun rumah tangga, kamu butuh pasangan yang lebih dari sekedar seru atau ‘nyambung’. Pertimbangan soal keluarga, bebet bibit bobot jadi sangat penting. Apakah hubungan pacaran yang sekarang kamu jalani sudah layak dibawa ke pelaminan? Apakah ada ketidakcocokan yang membuatmu belum menikah dengannya sampai hari ini? Atau, kamu memang belum siap secara mental dan finasial?
Sementara itu, kondisi makin mengerikan buat mereka yang jomblo di umur 30-an. Kamu berharap bisa menuliskan “cari jodoh” di keningmu. Mulai ngecek teman-teman di Facebook atau Twitter, kontak sama teman-teman lama, minta dikenalin sama temannya temanmu, atau malah “dibantu paksa” oleh keluarga besar. Kamu berusaha menemukan seseorang yang memang bisa diajak serius dan menikah.

9. Ketika Sudah Menikah Dan Punya Anak?

ketika udah punya anak
ketika udah punya anak via www.mirror.co.uk
Umur 30-an dan sudah punya keluarga sendiri, kamu merasa mereka adalah kebahagiaan sekaligus hartamu. Menjalani kehidupan sehari-hari bersama istri atau suamimu, lalu melihat anak-anakmu lahir dan bertumbuh setiap harinya.

Fokusmu adalah Mereka

keluarga kecilmu adalah segalanya
keluarga kecilmu adalah segalanya via www.ohkpop.com
Ya, keluarga punya posisi nomor satu. Kamu bekerja untuk pasangan dan anak-anakmu. Apakah keluarga kecilmu bisa hidup dengan layak? Bagaimana soal pendidikan dan masa depan anak-anakmu nanti? Kamu mulai mendedikasikan hidupmu untuk mereka, keluarga kecilmu.

10. Tapi, Terkadang Kamu Nggak Boleh Terlalu Serius

kamu tetap harus serius via www.pexels.com
Umur 30-an nggak merubah pakem bahwa hidup adalah teka-teki. Entah kejutan, kebahagiaan, atau musibah apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Kamu nggak boleh terlalu serius atau bahkan stres menghadapi fase baru dalam hidupmu. Umur 30-an bisa jadi sekedar angka 3 dan 0 tanpa perubahan dan persiapan apa-apa kalau kamu memang nggak menginginkannya.

Sesekali, Kamu Boleh Egois untuk Kebahagiaanmu Sendiri

luangkan waktu untuk hobimu
luangkan waktu untuk hobimu via ganlob.com
Jangan membuat hidupmu membosankan. Luangkan waktu untuk melakukan apa yang bisa membuatmu menikmati kebahagiaanmu sendiri. Apakah kamu suka baca buku, main musik, atau menulis? Kamu boleh dan layak menikmati hobimu untuk kesenanganmu sendiri. Perlakukan dirimu dengan lebih baik.
Di umur 20-an kamu mungkin merasa paling tau apa akan terjadi dalam hidupmu. Di umur 30-an kamu sadar bahwa kamu sama sekali nggak mengerti apa-apa tentang rencana Tuhan. Di umur 40-an kamu akan belajar menerima segala sesuatu dalam hidup, entah itu baik atau buruk. Hingga di umur 50-an, kamu hanya bisa bersyukur dan merasa bahwa hidupmu luar biasa.
Yup, hal-hal di atas adalah perubahan dan persiapan yang mungkin kamu alami di umur 30-an. Apakah kamu juga mengalaminya?
Mungkin, umur 30-an nggak harus dipandang sebagai satu fase yang mengerikan. Ketika kamu ingin menjalaninya dengan ritme hidup yang pelan dan lebih santai, itu juga bukan dosa ‘kan? Selamat menyambut usia 30-an!

Cari Blog Ini

PERHITUNGAN PPh 21, GROSS, NET, GROSS-UP & NON-GROSS-UP

Dalam praktek perhitungan PPH 21 perusahaan menggunakan berbagai macam metoda ada gross, net, gross-up, non gross-up. Mengapa terjadi demik...